Minggu, 18 Maret 2012

First Kiss From You





Author: Tamara Kim

Cast Lee Hyuk Jae

Catagories: FanFiction, FF One Shoot

Tag: Eun Hyuk


~0o0~

Bagai orang terbego sedunia aku mengikuti gerombolan grup kampusku. Saat ini aku study tour ke pulau Jeju yang mana aku masih belum tau sama sekali seluk beluk tempat aneh tapi indah seperti ini.

Dengan menenteng beberpaa buku aku mulai menulis apa yang di katakana Jo seongsanim. Bahkan kami tak di beri jeda untuk berhenti dan menulis sesuai otak, ia terus menjelaskan barang2 antik di depannya. Sudahlah seosangnim, apa yang kau katakana tak akan ada di otakku.

Ok, aku sampai di sebuah lukisan yang mengisahkan Korea Selatan, aku segera menulisnya. Sejarah awal Korea berkisar di sekitar kerajaan kuno Choson yang muncul sekitar 2.300 tahun sebelum Masehi. Pada sekitar abad ke 2 sebelum Masehi, bangsa Cina mendirikan koloni di daerah kerajaan tersebut.

Tak ingin ketinggalan gerombolanku, aku menulis sambil membuntuti mereka.

Bukk!

Aku menabrak mahasiswa di depanku. Buru2 aku meminta maaf dan segera menulis kemabali apa yang Jo seosangnim katakan. Oh ya sebelumnya perkenalkan diriku. Cho Hwayong, mahasiswi semester 2 sejarah.

Kulakukan itu hingga jam di tanganku menunjukkan jam 4 sore, kali ini Jo seosangnim menghentikan penjelasannya. Menyilahkan kami beristirahat yang akan di lanjutkan besok. Museum dengan penginapan kami sangat dekat, bahkan masih satu wilayah. Dengan begitu aku tidak takut untuk pulang sendiri.

Teh hangat dan sepiring kue lapis terhidang di depanku. Menikmatinya perlahan sembari di temani angin laut dan lagu yang beralun dair headphoneku. Saat ini aku harus merangkum semua penjelasan Jo seosangnim tuk membuat laporan, setiap hari hanya ini yang aku lakukan yang berkisar sudah 5 hari. Tinggal 5 hari lagi aku disini.

Sial! Tehku habis bahkan rangkuman masih belum mendapatkan separuh, kuputuskan untuk mengerjakannya di hotel. Merapikan semuanya dan menenteng buku-bukuku ke hotel.

“Ah, agasshi.”, seperti di panggil aku berhenti dan menoleh kearah suara itu, angin pantai di sini masih mengganas membuat rambutku hampir menutup pandanganku, berkali2 tanganku membenarkan letak rambutku ini.

“Ne”,

“Kau tidak ingat aku?”, siapa dia? Namja yang aku berhatikan sama sepertiku tapi berbeda beberapa tahun di atasku. Jari tanganku membenarkan letak rambutku kembali dan menggeleng pelan.

“Kau menabrakku tadi!”, oh! Dia! Mampus kau Hwayong.

“Ah? Ahaha, ne. Maafkan aku kejadian tadi”, aku tertawa garing, dan ganjarannya adalah rambut panjangku pada masuk ke mulutku. Menjijikkan sekali.

Dia tersenyum kembali, senyumnya! Aku baru kali ini melihat senyum yang sangat lepas, tulus dan menawan. Matanya yang tertutup saat tertawa dan gummy smile yang keluar beserta aura kerterbukaannya.

Belum sempat kami berkenalan suara segerombolan laki2 memanggilnya, membuatnya reflek mengayunkan tangannya untuk merespon. “Aku harus kesana, annyeong” salamnya sebelum meninggalkanku. Berlari menuju teman2nya yang sudah menunggunya. Menyeretnya kearah pantai, aku tersenyum. Selama disini aku belum memiliki teman yang dekat. Closer friend. Jangan heran kalau aku masih berbicara dengan siapapun disini, kecuali dia yang baru saja kutemui. Oops! Aku lupa menanyakan siapa namanya. A! PABO!!!!!

Kuberbalik dan segera ke hotel dengan memukul2 kepalaku yang super duber bodoh.

~0o0~

Malam sudah makin terpampang jelas, dari lantai 15 aku bersenandung kecil. Mendengar lagu bersemilir di telinga, menggerakkan kakiku kekiri dan kekanan menyesuaikan irama dari mulutku yang terlihat berantakan. Maklum, ini lagu baru.

Tanganku menyender pada pembatas balkon yang menghempaskan anginnya membuat rambutku berterbangan,

Plak.

Sesuatau mengenai kepala, kuambil. Sebuah pulpen? Kucari orang yang melepar itu, dan terlihat namja yang menggoyangkan tangannya,dari balkon satu garis lurus denganku tapi terpisah 3 kamar lainnya.

Namja itu lagi. Seperti memberi isyarat ia meminta maaf, akupun tersenyum dan memberikan ‘Ok’ dari tanganku. Namja ini kalau di lihat2, dia seorang yang friendly dan terbuka untuk siapapun. Jurusan apa dia? Dia kelompok sejarah? Terlihat dari kamarnya yang masuh satu lingkup dengan yang di sewa untuk kelompk sejarah.

Ia terlihat menghilang sebentar dengan wajahnya yang kebingungan, aku melihanya dari balkon ini masih dengan rambutku yang keterpa angin. Dia kembali lagi dengan sebuah kertas ‘Temui aku di pantai’, dengan mata redup aku membacanya. Aku menggeleng tak paham apa yang ia maksud. Maklum, mataku kurang kuat untuk malam hari apa lagi jarak yang lumayan jauh seperti ini. Namja friendly itu menunjuk kearah bawah dan terliat pantai lepas di depanku. Sebuah cahaya redup terlihat disana dan beberapa orang mengelilinginya. Oh aku paham apa yang ia maksud.

Dengan senyum aku menunujukkan ‘Ok’ lagi dan menghilangkan rambutku yang lagi2 masuk ke mulut.

~0o0~

Jaket ungu berlambangkan adidas berusaha menghilangkan rasa dingin menerpa kulitku. Kubetulkan leatk kacamataku dan sesekali menyusap hidungku yang mulai memerah. Kali ini untuk partisipasi tak adanya rambut yang masuk kemulutku, kuikat rambutku ke atas dan berponi.

Mataku mencari sosoknya, namja friendly. Apa aku harus memanggilnya itu? Namja friendly? Entahlah, tapi bagiku itu lebih bagus dari pada tak memberinya nama sama sekali. Sebuah tangan tiba2 di bahuku, akupun sontak berbalik dan melihat siapa di sana.

“Oh! Neo!”, sapaku dan tersenyum. Asyik! Tanpa rambut masuk ke mulutk aku tersenyum lebar kali ini. Melawan kelebaran senyumnya yang kadang membuat iri padaku.

“Mari bergabung!”, ajanya dan segera menarikku. Berkumpul pada sekumpulan pemuda pemudi yang asik bermain gitar dengan mengelilingi api unggun. Aku terduduk di sebuah baluk bayu di temani teh yang di berikan salah satu temannya.

“Aku tak pernah melihatmu sebelumnya”, ujarnya membuka pembicaraan. Aku tersenyum dan menyeruput teh di tanganku. Hangat.

“Kau dari kelas apa?”

“Sejarah.”

“Semester?”,

“2” jawabku singkat, aku memang tipikal orang tidak suka berbicara. Ia menghela nafas dengan tersenyum.

Tangannya tiba2 menarik ikat rambut di belakangku dan sukses membuat rambutku berkibar bagai bendera.

“Kau lebih cantik seperti ini.”, dengan bodohnya aku tersenyum hingga rambut masuk kembali ke mulutku

“Boleh kutau siapa namamu?”,

“Hwayong.. Cho Hwayong,”, lagi2 ia menunjukkan senyum lebarnya, ramah dan teduh.

“Namaku Lee..”

“Ya! Ini dia cepat! Bawa dia!”, belum sempat dia memberitahukan namanya, beberapa anak yang bermain gitar tadi membawa namja friendly itu ke tengah, menyeretnya paksa dan menyuruhnya menari dengan gerakan abstrak. Semua bergoyang, sedangkan aku hanya tertawa bersama mahasiswi lainnya yang ikut melihat tingkah laku mereka.

Disaat seperti ini, aku merasa makin sendiri. Lebih baik aku di kamar melihat saluran tv atau mendengarkan lagu seperti tadi. Mataku mencari lagi namja yang terdengar bernama Lee itu. Dia masih bernari riang bersama, dengan perlahan aku meninggalkan tempat itu tanpa jejak

~0o0~

Sial! Aku terbangun telat hari ini, membuatku harus berlari mengejar bus yang akan berangkat menuju perebunan di lereng gunung sana. Buku2 yang belum sempat aku masukkan berada di dekapku, memegangnya kuat dan berlari. Menabrak2 beberapa orang dan segera meminta maaf hingga kini aku menabrak orang berjaket hitam. Aku terpental lumayan jauh, buku2ku berserakan. Lagi2 aku meminta maaf, sifat tergopoh2ku ini masih belum hilang dari kecil.

Namja berjaket hitam it berjongkok membantuku merapikan buku2.

“Biar aku saja agasshi. Maaf atas yang ta…” mataku terbelalak. Namja friendly ini lagi?

“Aku juga bersalah,” ujarnya sembari menumpuk2 buku2 yang berserakan. Kenapa aku harus sama namja ini terus? Aku sangat bersalah.

Dia bangkit dan menarik tanganku.

“Mw-mwo?”

“Cepat sebelum terlambat!”, ia berlari sambil menarik tanganku. Langkah kakinya sangat jauh berbeda dengan kakiku. Persetan denga kaki semutku ini. Bagai terbang ia berlari bagai tiarap aku berlari. Poor Hwayong.

Kami sudah sampai di bus, dan terduduk di bangku nomor 3 dari belakang. Aku terduduk di dekat jendela, tepat waktu sekali. Sesaat kemudian bus kelompok sejarah langsung berangkat.

Nafasku masih tersenggal, menatapnya yang juga membenahi detak jantungnya. Sedetik kemudian ia menatapku entah apa yang lucu tapi kami tertawa.

Selama di bus aku terdiam, menulis semua apa yang aku lalui, dari melewati kebun teh hinggal jengkol (?). sedangkan Lee hanya menatapku,

“Kau suka menulis?”,

“Tidak, ini untuk rangkumanku saat kembali nanti. Apa kau tak mendapatkan tugas seperti ini?”, tanyaku balik. Ia menggeleng. “Aku dari kelas penelitian, dan sekarang kami akan ke kebun ginseng mencari bahan untuk presentasi.” Lee bersandar dengan menghela nafas. Kita berbeda jurusan ternyata.

Aku mengangguk. “Lalu, siapa namamu?”, tanyaku lagi. DAN LAGI!!! Sebelum ia mengunggkapkan namanya bus tiba2 berhenti mendadak. Membuatku hampir terbentur jika tangan Lee menopangku.

Ia berdiri mencari tau apa yang sedang terjadi.

“Kami sudah sampai”, oh tuhan, sial. Segera kuselempangkan tasku dan turun dari bus ini.

Aku dan Lee harus berpisah mengikuti kelompok masing2. Kali ini kami di beri kebebasan untuk menikmati beberapa buah2an dan sayur di kebun ini. Sedangkan kelompok Lee masih sibuk dengan apa yang yang di tugaskan pada mereka.

Kulihat Lee masih serius dengan semuanya. Mataku tak bekedip melihatnya, dengan peluh keringat yang mengalir ia mencoba menulis entah apa itu. Membuatnya seribu kali lipat lebih tampan. Hwayong, apa kau menyukainya?

Selama aku disini, yang kulihat hanya dia. Sesekali tersenyum saat mataku melihatnya. Damai dan teduh. Hanya itu saja yang ada di otakku.

Lee berkumpul dan segera memberikan lembaran yang ia kutat tadi dan teman2nyapun merangkul dirinya menjauh dari sana. Aku ingin mendekatinya. Sampai sekarang namanya pun belum kuketahui.

Tapi, kalau aku kesana tanpa apa2an apa harfiah? Mataku mencari sesuatu, ah ada anggur tak jauh dari sini. Segera kukesana, meminjam gunting dan mengguntingnya dari pohon segar itu. Membuang beberapa buah busuk dan segera berlari.

Dimana dia? Temannya ada di depanku sedang menikmati jerk yang kebetulan di depa kebun anggur ini. Kepalaku celingukkan mencari batang hidungnya.

“Kau mencariku nona Cho?”, aku berbalik dan entah mengapa jantung berdetak lebih keras dari biasanya.

“Wa, apa ini untukku?”, tanyanya yang tiba2 mengambil anggur dari tanganku. Ah, aku lupa.

“Ne” jawabku

“Gomawo :D” senyumnya makin lebar. Ia mengajakku berkeliling kebun dengan memakan anggur itu. Sangat menikmatinya, jujur aku masih tak suka anggur, tapi ia memaksaku memakannya. Haish, bagiku anggur itu terlalu keras di penghirupanku.

Tapi entah kenapa aku memlih anggur untuknya. Apa dia suka? Kenapa aku memikirkan ini sekarang kalau terlihat ia sangat menikmatinya.

Jam menunjukkan jam 12 siang pantas saja makin panas disini. Dan kamipun memutuskan untuk kembali ke bus. Mungkin kami terlalu capek atau memang mengantuk sekali. Aku hampir tertidur sedangkan dia? Sudah tertidur lelap di bahuku. Bagai bayi baru lahir wajahny kali ini. Tampan dan alami. Polos dan damai.

~0o0~

Tinggal 2 hari lagi aku harus kembali, kali ini aku hampir seharian free, aku mencarinya kemana2 tapi tak tau dia dimana. Terkadang aku tak terlalu excited kenapa namja yang tiba2 datang dalam kehidupanku tapi kali ini berbeda.

Mencoba mencari ke hotelnya. Apa harfiah kalau seorang yeoja mencari namja yang baru di kenal bahkan tak tau namanya di hotelnya? Aku terdiam di depan kamarnya. Aku sepertinya terlalu mabuk akan hal ini.

Ini nyata! Hampir seharian ini aku tak melihatnya dan hampir seharian ini aku seperti mayat hidup.

Aku terdiam mematung menatap layar LCD dengan tatapan kosong tanpa mencatat sedikitpun seperti yang sering aku lakukan saat Jo seosangmin menjelaskan. Malam ini kau membahas semua dan Jo seosangnim mulai memberi tugas2 lebih berat. Sontak semua mahasiswa mulai mengeluarkan suara kekecewaannya. Aku sendiri yang sepertinya terdiam. Duduk paling pojok tanpa seorangpun yang mau duduk sebangku denganku itu sudah bukan hal tabu di mata.

Semua di otakku hanya Lee, Lee dan Lee saja. Selalu melintas senyumnya, yang membuat hatiku damai dan tak sadar aku tersenyum akan hal ini.

Mataku terbuka saat hari terakhir. Apa aku bisa menemukannya dari beribu makhluk di kampus? Jurusan penelitiian sangat banyak dan aku masih tak tau dia semester berapa. Hari terakhir ini seperti hari di mana hari2 seterusnya kan berakhir. Aku terdiam menunggu bus untuk kembali ke Seoul. Apa kemarin adalah hari terakhirku bertemu dengannya. AKU BENAR-BENAR MERINDUKANNYA! Meridukan senyum manisnya, tawanya, tatapan teduhnya dan semua di dalam dirinya! Aku membutuhkannya.

Tapi apa yang bisa aku lakakan? Tak terasa sepanjang perjalanan aku terduduk di jendela dengan termenung dan menglir sungai air mata.

Aku tak kuat membuta mataku di pagi hari ini. Berat akan senyumnya yang selalu melintas. Mencoba beranjak dari kasur dan berkaca pada kaca kamar mandi yang sedikit berembun. Melihat kantung mata yang sangat terlihat jelas. Bagai manyat hidup aku membersihkan diri dan segera berangkat ke kampus.

Seperti biasa semua taka da yang memperhatikanku. Aku memang wanita pendiam dan sangat tertutup. Jarang ada yang mengajakku berbicara kecuali ada tugas yang perlu di sampaikan padaku. Menunggu jam kuliah, kakiku membawa ke tempat biasa. Di belakang kampus ada pemandangan luar biasa. Bukit kecil dengan embun yang selalu terlihat setiap saat.

Aku memasang headphone, mencoba mencoba mendalami pikiranku sendiri. Menghilangkan semua kegilaanku. Sejenak aku terhanyut oleh laguku sendiri

#NP: Alee – Heaven

Terasa ada yang menyentuh pundak kananku dan reflek aku menoleh kea rah kananku. Aku melonjak kecil saat namja tak tau diri tiba2 menciumku. Hanya menempel tak lebih tapi ini termasuk tidak sopan sama sekali.

Hey! Namja ini! Namja yang membuatku menjadi gila karena pesona lembutnya, damai dan friendly. Namja yang pertama kali membuatkku seperti makhluk tak bernyawa. Air mataku menetes berbaur menjadi satu di bibirnya. Ia masih menempelkan bibirnya dan memejamkan matanya.

Dengan rasa haru, senang, gembira kubalas kecupannya. Menyalurkan rasa kesalku padanya! Rasa rindu yang mendalam dan rasa cinta yang terselip.

Air mataku menjadi satu dalam kecupannya. Sebenarnya aku yang mengendalikan ini semua. Ia hanya diam dan menutup matanya.

Kuakhiri perlahan dengan air mata yang masih mengalir. “Lee Hyuk Jae imnida. Jadilah milikku selamanya Cho Hwayong. Biarkan aku menjadikanmu Lee Hwayong”. Aku makin menangis. Kenapa ada orang seperti ini yang aku temui dalam 5 hari terakhir. Kupeluk dia, menangis di bahunya. Nyaman!

“Ne, Lee Hyuk Jae. Cho Hwayong imnida. Jadikan aku milikmu seutuhnya”

-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar