Rabu, 04 April 2012

I Love You Whatever You're!


Author: Tamara Kim
Cast: Lee Hyuk jae
Catagories: Fanfction, Romance, OneShoot
Tags: Lee Hyuk Jae

~~~oo0oo~~~
Kau kira menjadi vampire itu menyenangkan? Bagiku, kini posisiku jauh dari kata ‘menyenangkan’ ini lebih condong ke ‘memuakkan’! Setiap malam keseratus tahun saat bulan purnama aku harus mencari makananku dan lebih malangnya lagi, itu harus manusia. Lebih baik aku memakan darah singa atau macan sekalipun dari pada manusia. Ehm, entahlah bagiku aku masih tak tega harus memakan mereka. Toh dulunya aku juga manusia, sama seperti mereka.

Sebenarnya aku lebih menuruti gen ibuku, dulu ibuku seorang manusia tapi oleh ayahku ia rubah menjadi vampire. Aku mempunyai sifat sama dengan ibuku, rasa kasihan yang sangat tinggi. Tapi bagaimana lagi, kalau aku tak melakukan ini berarti aku sedang menusuk keluargaku sendiri dari belakang. Yah seperti itulah hukum di dunia kami. Gelap dan menyakitkan.

Hingga suatu hari entah kapan itu, kutemukan gadis yang merubah cara pandang, berpikir, dan ah~ semua berubah di luar kendali. Panggil saja dia Kim, simple dan mudah diingat. Awalnya hanya berteman biasa bahkan sebelumnya kami salang diam, tapi sekarang aku sudah mengajaknya ke tahap yang hampir mendekati serius. Tidak, dia masih belum siap untuk kuajak mengikat janji suci aku belum tau apa yang ia tunggu lagi.

Kim bekerja di sebuah perkantoran sebagai sekretaris. Selalu tersenyum kepada siapun termasuk yang ia tidak kenal. Aku selalu tertawa saat melihatnya tersenyum kepada orang lain padahal ia tak mengetahui siapa dia. Tahukah, sampai sekarang dia masih tidak tau siapa diriku sebenarnya, aku terlalu takut untuk kehilangannya saat ia tau siapa diriku sebenarnya?

Hubunganku sudah menginjak 3 tahun dengannya tapi apa yang aku dapatkan. Ia selalu menjaga jarak denganku dan menampilkan sesuatu yang membuatku terlihat sangat lemah di depannya. Perak. Yah, kaumku sangat lemah kalau sudah berhadapan dengan benda itu.

Aku terdiam, apa dia sudah mencari pengganti lain dariku. Apa dia bosan? Apa diriku terlalu tertutup? Apa kekuranganku yang ia tak sukai? Aku sudah semaksimal mungkin di depannya. Memberi perhatian lebih kepadanya. Apa aku terlalu memperhatikannya dan membuatnya suntuk melihatku terus?

“Bagaimana kalau kita jalan sebentar?”, ajakku saat malam mulai tiba. Saat-saat kebebasanku, tanpa matahari di sekeliling.

“Kemana?”, Kim berlajan sejajar denganku, kupegang tangannya tapi ia melepasnya. Aku mendengus kesal.

“Kemanapun kau mau.”, aku memberinya kebebasan, Kim tersenyum. “Baiklah, aku capek. Kita duduk saja di sana.”, ujarnya dan berjalan cepat hampir mendahuluiku. Ehm, dia ingin kebebasan?

Aku terduduk di sampingnya yang sedang memijat kecil kakinya. Dengan segera kuberjongkok di depannya memijat kecil kakinya. Ia kaget, membulatkan mata kelinci yang ia punya.

“Kau pasti sakit, seharian memakai sepatu hak seperti ini.”, Kim mendeham kecil dan membuang muka, sempat kulihat ia sedikit blushing. Dasar wanita.

Setelah cukup lemas kakinya, aku terduduk lagi di sampingnya. Kini aku baru sadar, disini sangat sepi. “Hyuk Jae, apa kau masih mencintaiku?”, mwo? Apa yang ia katakan? Bahkan tanpanya sehari saja aku sudah mati untuk kedua kalinya.

“Jangan bertanya hal bodoh, Kim”. Jawabku. Jujur yang ingin kusampaikan dan yang terlontar sangat jauh dari otakku.

“Aku bertanya serius”, kini Kim menatapku dengan perasaan yang mendalam dan tangan meremas kuat kedua bahuku, bahkan jarak yang mengenai BAHAYA! Kutatap balik matanya menyalurkan apa yang aku rasakan selama ini. Bingung akan tingkah lakunya yang membuat diriku pusing. “Dan akupun serius.”, Hyuk Jae! Kau kuhukum!

Di luar kendali pikiranku, ia menciumku dalam. Tuhan! Aku laki-laki dan juga seorang vampire. Masih mempunyai nafsu dan haus akan darah. Dalam ciumannya aku mematung. Kulihat matanya tertutup menikmati apa yang ia lakukan dan lagi! Tanpa kusadari taringku keluar mengenai bibir manisnya. Segera kutarik bibirku dan menyembunyikan taringku.

“Sudah malam, aku harus mengantarkanmu pulang.”, nafsuku sudah sampai ubun-ubun. Dengan bau darahnya yang makin menyeruak. Argh! Hyuk Jae! Jangan sentuh dia!

Selama di mobil pikiranku masih terus berkalut. Wangi tubuhnya dan darah yang tersisa di bibirnya hampir memutus semua saraf otakku. Mobil Galardo silverku melesat bagai setan di jalan malam ini. Ia terdiam dan sesekali tersenyum. Kebiasaan anehnya mulai keluar.

Tak berselang lama akhirnya sampai, Kim turun sebelum turun ia kembali menciumku. Kalau aku tidak seorang vampire mungkin aku sudah melumat habis bibirnya. “Sarangheyo, Hyuk Jae.”, salamnya sebelum masuk ke rumah kuningnya. Aku tersenyum dan segera enyah menuju hutan. Dengan kecepatan setan aku memburu sebuah beruang liar dengan ganas. Yeah,persetan dengan nafsu.

~~~oo0oo~~~

Hari yang kubenci datang hari ini, yang mana aku harus mencari mangsaku. Membunuhnya atau menjadikannya vampire sama sepertiku. Tapi siapa, dan lagi-lagi aku harus keibuku untuk memperteguh diriku walau ini sudah yang ketujuh. Handphoneku berdering. Kim.

“Maukah kau mengantarku?” walaupun lewat handphone seperti ini suaranya tetap sama. Sama-sama nyaring di telinga.

“Tentu, kemana?”

“Aku ingin berjalan-jalan bersamamu.”, bagai salju di musim panas aku tersenyum. Sifatnya mulai kembali. “Tentu saja”, jawabku. Selagi menenangkan diriku untuk nanti malam. Selama bersamanya bukan menenangkan aku makin kalut, naluri nanti malam sudah kambuh mulai sekarang. Yang dapat aku lakukan hanya diam, membuang jauh-jauh nafsuku yang labil.

“Chagi, waeyo?”, Kim bertanya dengan menjilat es krimnya lahap. Aku terdiam tak dapat angkat bicara. “Ya, Hyuk Jae-ah!”, ia mengguncang diriku. Kim mendekatkan wajahnya menyusuri lekuk wajahku. “Kau sedang punya masalah, Chagi-ah”. Benar. Benar sekali kau!

“Mari kita pulang.”, ajakku lepas control. Tergurat tanda bingung di wajahnya, aku tak ingin membuatmu khawatir, Kim. Selama perjalanan mataku terfocus kepada jalan tapi bertolak belakang dengan otakku yang entah berpikir apa sekarang.

“Istirahatlah, Hyuk.”, Kim keluar dan mobil, saat sudah tiba di depan rumah kuningnya. Tiba-tiba tanganku meraih tangannya, badannya kembali masuk kemobil tetapi kakinya sudah berpijak di tanah luar. Ia memandangku dengan tatapan tanda Tanya.

Kukecup bibirnya sekilas dan perlahan perubahannya terjadi. Tatapan matanya kosong, aku sedang menghipnotisnya. Kugendong dirinya memasuki kamar di rumah kuning. Menidurkannya di kasur empuknya. Kini aku bersiap untuk menggigitnya, cahaya bulan yang mengontrolku saat ini.

Ha? KIM!!!

Sedetik bayangan Kim sedang tertawa, menangis, apapun ekspresinya terbesit di otakku. Menyadarku sejenak dengan apa yang aku lakukan. Kupeluk Kim yang berada di bawahku, sangat bersalah diriku hari ini.

“Mengapa kau berhenti?”, Kim?

“Kenapa kau berhenti, Hyuk Jae? Kau ingin menjadi aib keluargamu?”, kulepas pelukanku padanya dan menidurkan kembali masih dengan posisi aku di atasnya, deru nafasnya terasa hangat di kulit leher dinginku. “Aku sudah tau semuanya Hyuk Jae.”, suara serakhnya sangat miris di telinga.

“Aku sempat kecewa saat kau tak memberi tau siapa kau sebenarnya. Untung saja Yesung memberitahuku.”, Yesung? Dia sahabatku, hanya dia sebagai manusia yang mengerti siapa diriku.

Kupeluk lagi tubuh kecil di bawahku, menciumi aroma rambutnya.

“Aku tak ingin kehilangan dirimu, aku takut akan perbikiran meninggalkanku.”

“Kalau begitu lakukanlah!”, ia sedikit membentak. Kim membentakku!

“Aku tak bisa denganmu. Aku ingin menikah denganmu sebagai manusia.”, jelasku. Kini emosiku tak terbendung.

“Manusia atau tidak kau masih bisa memiliki diriku.”, aku tertegun. Ia mengangguk memberikan isyarat untuk melakukannya. Dengan ragu aku mendekatkan bibirku dengan lehernya. “Maafkan aku, Kim” salamku sebelum merubahnya menjadi diriku. Teriakan keras menyakitkan bergema di kamar ini.

~~~oo0oo~~~

“Terima kasih kau telah melakukannya.”, Kim baru saja terbangun dari masa transisinya. Bibir pucat dan kulit dinginnya makin membuatnya cantik. “Minumlah. Kau masih lemah~”, darah ular sangat membantunya dalam masa transisi ini. “Waw, minuman baruku.”, candanya dan segera meminumnya rakus

“Maafkan aku, aku di luar kendali.”,

“Maksudmu?” kepegang perut datarnya. “Aku menanam benih disini.”, ia tersontak kecil Kim menciumku. “You’re the best.”,

~~~oo0oo~~~

“Apa dia nakal?”,

“Opps, suaramu membuatnya berguncang, Hyuk.”, kasambar bibirnya. Kini Kim mengandung anakku yak anak diriku dengannya. Sangat aku dambakan.

“Kim”

“Ehm…”, ia tersenyum kepada diriku dengan rasa cintanya yang tak pernah luntur.

Kurogoh saku jasku dan membuka otak kecil berwarna hitam itu terpampanglah jelas cincin emas dengan ukiran yang unik bagiku. Sampai saat ini aku masih belum resmi mengikat janji suci di antara aku dengannya. Dan kini aku putuskan untuk menjadikannya diriku sampai aku harus mati terbunuh sekalipun mengotori kertas putih dengan tinta ceritaku dengannya, menjalin kasih sayang bagai rajutan benang yang tak bernah berhenti.

Kim terkejut, ia seorang vampire sekarang, sebuah air mata tak dapat untuk di keluarkan. Kami berbeda, dengan semangat ia memelukk, melompat-lompat bagai anak TK yang bertemu ibunya.
“Menikahlah denganku, dan jadilah milikku selamanya..”

The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar