Rabu, 04 April 2012

Pianist _HyunTeuk_ Couple


Author: Tamara Kim /@SheFly_Out17
Cast: Park Jung Soo, Cho Kyuhyun
Catagories: FanFiction, OneShoot, Romance
Tags:  Leeteuk, Kyuhyun
Note: Rada muter ceritanya, hope like this ^^

_____________________

“Dia harus mengikuti kelas musik, agar menjadi perempuan elegan!!”, teriak appa sambil memukul meja denan geram. Umma hanya dapat menunduk dan terduduk di depannya. Aku yang merasa pusing untuk melihat hal itu hanya duduk termenung menatap bulan yang masih bersinar. Aku tak menganggap semua yang ada di dunia ini serius, karena aku tahu umurku disini tak lama penyakitku yang tak kunjung sembuh sudah membuatku untuk tak menghiraukan yang ada di sebelahku ataupun sekitar.

KLEKK!!!

Aku menoleh kearah pintu, kulihat umma datang dengan mata membengkak dan hidung yang memerah, ia terisak dan duduk di pinggiran kasurku. Aku mendekat dan mencoba menenangkannya dengan usapan pelan dipunggungnya.

“Laksanakanlah apa kehendak appamu, nak. Umma tak dapat mengelak lagi…”, isaknya terasa berat untuk hal seperti ini. Umma sangat sayang padaku, ia yang merawat aku yang sudah separuh hidup. Aku menganggukkan kepala mantap dengan sedikit tersenyum untuk membuatnya tenang sedikit.

FLASH BACK: OFF

            Kini aku sedang berdiri di depan sekolah yang bagiku adalah neraka. Kulihat semua siswa menjauhiku dan dengan tatap yang paling kubenci!! Tatapan mengejek!!!

“Hyun Ah~!! Kemarilah!!!”, teriak seseorang yang bagiku adalah penolongku dalam neraka ini. Sungmin-sshi.

Aku mendekat dengan tatapan kutundukkan, aku merasa malu untuk mengangkat wajahku yang mungkin bagi setiap orang adalah sampah.

“Jangan seperti itu, mari. Bel sudah berbunyi, ambillah tempat dan ikutilah pelajaranku!!”, ujarnya sopan dan lembut terhadapaku. Sungmin-sshi adalah pamanku, tapi olehnya selain di rumah ataupun di luar sekolah, aku harus memanggilnya dengan jabatan-sshi.

Aku memanggung mengiyakan dan langsung menuju ruang kelas tanpa mengadahkan kepalaku sedikitpun.

Derap langkahku menuju kelas terdengar nyaring di sepanjang koridor kelas. Gedung sekolah tua seperti ini membuat aku makin menamai ini NERAKA!! Bagian-bagian yang sudah tak berbentuk, batu-batu tertumpuk dan berlubang, dan membuat gedung ini makin seperti kastil tua.

Kulangkahkan kakiku melewati pintu belakanng kelas, kulihat pelajaran sudah mulai. Sungmin-sshi terdengar sedang menerangkan kunci-kunci yang sudah sangat kuhafal.

“Mianhamida, saya telat!!”, ucapku dengan teetap menunduk dan sedikit membungkuk. Aku langsung saja menuju kursiku dan mengeluarkan buku. Kulihat tatapan SETAN itu dari orang-orang yang duduk di sekitar. Sungmin-sshipun langsung menarik perhatian kembali dengan pelajarannya.

***

Jam istirahat aku anggap seperti jam eksekusi pada zaman kerajaan. Kumakan nasi yang dibuat umma tanpa menghiraukan tatapan SETAN semua itu. Tiba-tiba sebuah pesawat kertas jatuh tepat di hadapanku. Kulihat sekeliling masih dengan tatapan SETANnya. Kuambil pelan kertas itu dan kubuka, dan saat kubuka isinya.

Perawan tua hingga 20 tahun ke depan

Mataku langsung membulat, amarah dalam diriku ingin menyeruak tapi tidak untuk kondisi seperti ini.

“Hahahaa, perawan selamanya. Bagaimana nantinya diriku jika menjadimu, Hyun Ah~ sayang.. ehm..” ejek Hara Ya sambil bermanja-manja dengan In Hyun yang menjabat menjadi pacarnya.

Cuih~ ingin sekali aku meludahi wajahnya itu. Dasar perempuan kampungan. SUNDAL!!!

Seiring dengan perkataan Hara tadi semua orang di kelas ini langsung tertawa terbahak-bahak. Jati diriku makin menurun, aku tak tahan untuk menahan air mata untuk penindasan ini. Tuhan, aku mohon tegarkanlah aku.

“Hahaha, wanita sundal!!”, sahut Shira yang maish dengan memanin-mainkan rambutnya. Aku tak tahan lagi. Aku tak tahan.

Kubereskan kotak makannanku dan cepat-cepat kumasukkan ke dalam tas. Aku langkahkan kakiku keluar kelas dengan tatapan yang selalu menunduk untuk menutup wajah hina dalam orang-orang SETAN itu!!.

TENG!!! TENG!! TENG!!!

“Sial, bel masuk!!”, batinku dalam hati. Tapi hatiku mengontrol kakiku untuk terus menjauh dari ruang eksekusi itu.

“Hyun Ah~!!! Mau kemana kau??”, tanya Sungmin-sshi sedikit berteriak.

Aku yang sudah tak ingin mengetahui apapun tentang eksekusi itu langsung saja kuhiraukan dan terus berjalan entah kemana.

***

Kumasuki ruangan persembunyianku. Ruangan seperti gudang, tempat menyimpan buku-buku usang, lukisan-lukisan yang sudah hampir luntur, peralatan musik-musik, tapi satu tujuanku untuk kesana yaitu piano. Pianolah yang membuatku hidup kembali. Kupandang sekeliling ruangan itu, masih berdebu dan selalu saja berdebu. Tas usang pemberian umma kulemparkan sembarangan dan menuju kursi tepat di depat piano besar YAMAHA.

Kunci-kunci lagi sudah beralun nyaring di ruangan yang sedikit pengap ini. Matahari yang masih mencoba untuk menerobos masuk membuat susana di ruangan ini makin magis.

***

Kuambil sebuah map usang di selipan bawah kayu piano kuno itu. Dibersihkan debu-debu tebal yang menutupi map itu dengan tiupan kecil, debu-debu itu berterbangan membuat sedikit berkelap-kelip dengan cahaya matahari.

Kubetulan sedikit baju seragam yang sdikt kusut dan berdebu. Kubediri dengan sedikit tersenyum menarapnya dan memandang pintu untuk pertama kalinya ia melihatku. Kakiku menuju pintu berukiran kuno itu. Memegang pinggiran ukiran yang melambangkan peri cupid yang sedang menyatukan cinta. (cupid: peri cinta). Kulangkahkan lagi menuju koridor-koridor yang selalu kulewati bersamanya disini, sambil bergandengan tangan dan tertawa bersama menuju kelas, tapi itu sudah dulu. Melewati ruang-ruang kelas dan bersembunyi-sembunyi untuk saling mengagetkkan dan tertawa lagi, tapi itu dulu. Aku lewati itu semua dengan tatapan menunduk sambil memeluk map usang tua itu menuju taman dengan seseorang yang sudah kujanjikan dari tadi pagi.

“Hyun Ah~!!”, panggil seseorang yang sudah sangat kukenal. Kumendekat kearahnya tanpa melihat wajahnya ataupun menaikkan pandanganku.

Aku duduk tepat disebelahnya, kunaikkan pandanganku tapi tak menatapnya. Kulihat sekeliling sudah sepi karena kini sudah jam pulang sekolah. “Ini!! Sepertinya aku harus memebrikannya padamu!!”, memberikan map kecil itu.

“Wae?? Inikan sangat berarti bagimu!!”, ujarnya sedikt terheran.

“Aku tahu ini saat berarti bagiku. Tapi kau adlaah satu-satunya yang dapat melihatku. Aku hanya dapat bergantung padamu. Ehm, Sungmin ahjusshi~ bisakah kau memberikan salam ini untuk umma?? Aku ingin bertemu dengannya tapi apa daya, waktu sudah semakin menipis dan dia sudah menungguku.”, ujarku tanpa menaikkan pandangan untuk wajah sampahku.

“Ne! Jaga dirimu baik-baik!!”, jawabnya sambil mengangguk mantap.

“Aku akan pergi Sungmin ahjussi!! Salamkan pada umma, aku mencintainya!!”, ujarku masih dengan menunduk dan sedikit bernada ceria. Kulihat kakinya mendekat padaku, kini tanganya sudah diwajahku.

“Bahagialah disana, aku tahu kau pasti senang. Tapi satu permohonanku!!”. Tangannya mengusap rambutku dan ditaruhnya lembut di balik telingaku, separuh wajahku sudah terlihat dan separuhnya masih tertutup poniku yang panjang. “Aku ingin kau mengilang dengan menunjukkan wajah indahmu, kau sama sekali tak buruk rupa, kau sama sekali tak jelek. Kau indah, pergilah dengan wajahmu bahagia untuknya!!”, ujarnya sambil menepuk pundakku mantap. Aku mengangguk mantap dengan senyuman terukir.

Ya, aku akan bersamanya dan bersamanya selamanya.

FLASHBACK: ONN

Aku melangkah menuju gudang tempat penyimpanan alat-alat musik yang sudah tua tapi masih bisa di pakai. Kubuka pintu itu dengan pelan, pintu tua besar itu berdecit keras di ruangan besar dan menggema. Bau pengap dan cahaya matahari yang berdesakan masuk di celah-ceah jendela yang tertutup rapat. Langsung saja kumenuju piano tua besar tepat di tengah ruangan itu. Kuberjongkok untuk masuk kebawahnya, dengan susah payah aku mencoba mengambil map coklat.

“Terlalu lama. Makin pudar warnanya!!”, gumamku kecil sambil mengamati map coklat tua yang sudah tak berwarna lagi. Debu yan tebal kutiup perlahan dan sedikit kukibaskan, penyakit sesakku tak kuat untuk menerima debu setebal itu.

Kubuka map itu, kubaca halaman pertama yang sudah hampir tak terlihat lagi.

Untuk orang yang kupuja dan kusayang dengan sepenuh hati.

Untuk  awal pertemuan memang canggung, permaianan alat musiklah yang membuat kita dekat dan menjadi satu.

Musiklah hidup kita, tanpa musik apakah kita dapat bersatu seperti ini.

Bermainlah dengan cepat.

Hanya kunci-kunci yang cepatlah dapat membuka portal dan mempersatukan kita.

Bermainlah dengan cepat tanpa salah dari satu kunci tersebut.

Hal pertama untuk menemuiku dan selamanya.
                                                                                                                                Han Hyun Ah~

Kutersenyum membaca itu. Kuambil tempat duduk dan menaruh map berisikan kunci-kunci itu didepanku.Tuts sudah kumainkan, aluanan nada yang cepat dengan jemari-jemari yang sudah terampil sepertiku itu sangat mudah dan kunci-kunci yang kubuat sendiri. Masih dalam permainan cepat dan alunan kunci-kunci memutar cepat di ruhani. Kupejamkan mataku untuk perubahan pesat di sekililing yang dapat kurasakan, makin cepat kunci-kunci dan nada beralun makin cepat perubahan yang kurasakan.

Merasa kunci-kunci yang kualunkan sudah habis, kubuka mataku perlahan dan menatap sekeliling. Benar. Semua telah berubah.

Piano yang kumainkan kini masih terlihat baru, banyak alat-alat yang tua tadi masih terlihat mengkilat oleh cat-cat warna elegan, rak-rak buku yang usang dan berdebu kini bersih dan tertata rapi. Masih banyak dinding yang masih belum tercat dan kaleng-kaleng cat masih terletak sembarangan di bawah. Kulihat belakang terdapat tangga untuk rak-rak tinggi, kunaik dan menyelipkan map itu.

KLEK!!

Seorang laki-laki berwajah cerah, damai, dan tampan datang masuk dan tepat saat itu juga melihatku yang sedang memasukkan map itu dalam rak.

“Ah~ mian~!!”, ujarnya sambil menunduk sedikit dan kembali.

“Jankkaman!!”, ujarku buru-buru. Aku juga tak mengerti kenapa melontarkan kata-kata itu.

Dia kembali lagi tapi hanya wajahnya yang terlihat dan sedikit mendongak untuk ukuran tinggi sepertinya dan aku yang masih di atas tangga.

“Ehm.. aku butuh pertolonganmu!!”, sahutku asal iklan di otak tanpa ada pemikiran dahulu.

“Ya, kau murid baru?? Sepertinya aku tersesat.”, ujarnya lagi dan tersenyum.

SENYUM!! Inilah yang dapat kukatakan bahwa senyum. Senyum tulus dan mempesona. Tidak seperti senyum yang lainnya. Para SENYUM SETAN!!

“Ya, sepertinya. apakah kita bisa langsung sekarang??”, tanyaku saat sudah turun dari tangga itu, tak sopan juga berbicara dengan orang baru kenal di depan wajah dan tentunya hatiku yang baru saja terbuka.

“Sepertinya jika tak ada ulangan hari ini. Kau bisa mengikutiku untuk kekelas jika kau mau?? Kau kelas berapa??”, tanyanya terdengar seperti terburu-buru.

“Aku kelas tiga!!”, jawabku dengan senyum indah yang kumiliki. Inilah senyum yang kucari selama ini.

“Kita sama, ayo kita ke kelas!!”, ajaknya sambil menarik tanganku. Aku menampar tangannya kecil tidak untuk bermaksud apa-apa.

Dia menatap heran padaku.

“Ehm.. maaf. Aku tak ingin ke kelas.”, aku menjawab sedikt kaku.

“Oke. Aku harus ke kelas secepatnya. Sampai bertema nanti.”, ujarnya yang langsung pergi.

“Ehk~ Jankkaman!! Siapa namamu??”, tanyaku sedikit berteriak.

“Jung Soo!! Kau boleh memanggilku Leetuk kalau kau mau!!”, jawabnya sambil ikut berteriak dan sedikit melambai.

Aku tersenyum mendengar nama yang disebutkannya tadi. Dengan senyum yang masih mengembang aku menyusuri koridor yang berlainan arah.

Kutelusuri, belum lama itu bel berbunyi nyaring di sepanjang koridor. Menandakan istirahat. Senyumku makin terlihat lebar mengetahui kalau semua murid ini akan keluar. Terdapat dua insan disana sedang asyik bercanda, aku mendekat.

“Hallo!!”, sapaku sambil melambaikan tangan. Mereka tak merespon. Kuulang kembali dengan memperdekat wajahku. Tak merespon.

Aku terheran sebentar, kumenatap sekitar. Kusapa lagi seseorang yang sedang berjalan, kusapa lagi dengan melambaikan tanganku. Tak merespon. Ini aneh tapi keren menurutku. Semua orang tak melihatku, ini hal gaib. Heheheee…

Kelewati setiap insan di depanku dengan cara kutembus. Begitu geli rasanya saat di perut seperti saat kau naik rolling coaster ataupun tornado. Belum lama kurasakan saat seperti itu, bel berbunyi nyaring kembali. Semua murid langsung masuk ke kelas mereka masing-masing. Kumasukkan tanganku kekantong jaket dan menyusuri koridor itu dengan senyum kecil.

Setiap jendela yang kulalui, kulihat satu persatu untuk mencari kelas yang nyaman bagiku. Sampai saat kulihat di kelas IXD. Kumasuk perlahan, sesangnim sedang menjelaskan pelajarannya dengan sedikit sabar, para murid masih mengikutinya dengan baik. Aku masuk sambil melambai-lambai di depan wajah sesangnim. Dengan gerakan-gerakan konyol aku di melakukannya di depan mereka semua. Aku berani melakukannya karena mereka tak melihatku, seru bukan?? Melakukan apapun yang kita mau tanpa ada yang melihat!

Terasa capai dan tak seru lagi, aku berpindah menuju dua kelas sebelah. Sekarang di kelas B. Aku melihat dari jendela kecil, ada seorang namja tadi, yang kalau tak salah bernama.. ehm…. Leteuk, aku lupa yang lagi satunya. Hasratku makin menyeruak untuk masuk. Dengan melewati pintu belakang kelas, aku masuk dengan salam seadanya.

“Mianhamnida, saya telat!!”, ujarku sambil menunduk sedikit dan langsung mengambil kursi paling belakang sendiri. kulihat seseorang yang bernama Leeteuk itu melihat kearahku dan tersenyum manis. Aku sangat suka senyumannya dan dekiknya yang membuat senyumnya makin mempesona.
Kini aku melewati pelajaran layaknya manusia biasa, walau kalian tau kalau aku tak dapat dilihat oleh mereka. Selama pelajaran aku menemukan suatu pertanyaan yang membuatku tersenyum sendiri untuk keuntungannya dan sedikit mengerutkan alis untuk keanehannya. Kenapa hanya Leeteuk seorang yang dapat melihatku, sedangkan mereka tidak?? Aku tertawa-tawa sendiri, sampai-samapi ia melihat diriku lagi dengan ikut tersenyum.

***

“Kau bisa bermain musik??”, tanyanya sedikit merenggangkan otot-ototnya dan menguap pelan.

“NE~!!!”, jawabku mantap dan tersenyum sedikit untuk senyumnya yang tak terbandingkan.

“Jinca?? Alat musik apa yang kau perdalam??”, tanyanya lagi.

“Piano. Itupun kehendak appa!! Aku tak dapat menolaknya!!”, jawabku sambil sedikit ikut merenggangkan otot-ototku.

Diudara seperti ini dan pemandangan indah pegunungan asri, tak kusia-siakan untuk hal terbaik bagi kesehatanku.

Dia mengangguk pelan.

“Hey~!! Sedang apa kau?? Berbicara sendirian disini!!”, ujar Ji Hae sedikit menepuk pundak Leeteuk. Aku yang baru menyadari hal ini langsung terperanjat dan berlari menjauhnya. Semoga ia tak mengetahuinya.

“Kau!! Aku belum tahu namamu!!”, teriakknya. Tak kuhiraukan dan terus saja berlari menjauh.
Belum lama aku berlari, terasa dadaku terasa diikat dan sudah sekali untuk bernafas. Aku mendelik pelan untuk setiap menghirup nafas. Kakiku yang lemah tak dapat menahan tubuhku. Akupun oleng sesaat, terasa sesak kembali lagi. Dalam keadaan seperti ini, siapa yang akan mengetahuiku dan menolongku. Nafas makin tak teratur. Kurasakan tangan hangat menyentuh pundakku dan punggungku sebelum semua menjadi gelap.

***
“Kunci adalah segalanya, tapi segalanya bukan kunci. Kunci dapat membuka tapi tidak semua terbuka dengan kunci. Temuilah aku dalam hatimu, bukan dari luar. Karena aku ada selalu di hatimu!!”, ujar sosok di depanku tang berpostur tinggi dan berwarna putih. Belum aku sempat bertanya ia langsung menghilang. Dan saat itulah kesadaranku berlangsung.

“Kau telah sadar??”, tanyanya dengan wajah panik yang masih dapat kulihat. Aku tak dapat menjawab hanya menganggukkan kepala.  Wangi obat-obatan yang sudah bau sehari-hari untuk hidungku memenuhi ruangan ini, aku merasa ini adalah ruang kesehatan. Tapi kenapa disini sangat gelap, bahkan matahari saja harus rela berdesakan untuk masuk melewati lubang kecil tepat di wajahku.

“Sepertinya kau harus pulang, tapi kau tak tahu dimana kau tinggal.”, ujaranya sambil menggenggap tanganku erat.

Aku menggelengkan kepala berat.

Dia melihatku dengan ekspresi main bingung dan panik. Tanpa izin dariku, akupun dibopohnya, badan yang kurus dan kerempeng akibat penyakit yang setiap hari menggerogotiku membuatnya merasa bahwa ini aldalah sebuah karung yang berisikan kapuk. Dia membuka pintu yang sedikit terbuka itu dengan kakinya. Mata yang masih sedikt berat hanya dapat terpejam dengan darap langahnya menyusuri lorong-lorong.

Aroma bunga-bunga kini sudah memenuhi rongga hidungku, dia meletakkanku direrumputan. Kubuka mataku perlahan, wajahnya yang damai sudah menyambutku, senyumnya sudah memebuatku makin baik, dan tatapannya membuatku sudah keadaan melayang. Ditariknya tanganku agar aku dapat terduduk.

“Tidak baik dengan obat terus menerus, kau harus kesini setiap hari, ini membuatku makin baik dari pada harus bersetubuh dengan obat-obatan yang membuatmu tak kunjung sembuh!!!”, ujarnya lembut ditelingaku, aku mengangguk. Kucium aroma bunga lavender, mawar, dan yang lain. Tenggorokan yang terasa diikiat kini sudah terbuka kembali membuaku makin senag disini dan satu lagi , karena sepertinya aku menyukai Leeteuk. Aku berjanji akan menyampaikannya suatu saat nanti. Aku berjanji!!

***

Setiap hari kulewati dengan senyum yang tak kalah dengannya. Senyum kebahagiaan, walaupun penyakitku masih dibilang sering kambuh dansering kali ia memperingatkanku bahwa akutak pernah mendapatkanya dan umur yang menipis.

Melewati hari tanpanya membuat hari ini makin panjang dan tak berpenghujung. Tapi, jika dia terus disisiku teras ada dunia yang hanya untukku dan dia. Selalu saling mengagetkan, bersenda gurau, tertawa bersama, untuk melupakanku dari penyakit ini. Begitu tulusnya dia.

Apakah aku bisa dibuatnya menjadi bermarga Park?? Itulah yang kuharpkan padanya.

***

Sekolah hari ini ramai, karena papan pengumuman yang berisikan bahwa kelulusan akan dilaksanakan seminggu lagi. Aku mencari Leeteuk untuk memberitahu ini. Kususuri kelas, dia tak ada bahkan tasnya saja tak ada. Kantin, koridor-koridor, lorong-lorong, dan tempat kesukannya yang mengahadap gunungpun ia tak ada. Kini aku sedang menyusuri ruang belakang sekolah, terdengar alunan nada yang cepat telah mengalun di telingaku dari bawah sana yang sudahku pastikan bahwa itu adalah gudang

Sampai disuatu ruangan yang amat berarti bagiku, yang aku anggap adalah surgaku. Gudang yang berisikan piano itu adalah sumber dari suara tadi. Aku buka perlahan, kulihat Leetuk sedang memainkan suatu nada yang tak kukenal dengan kunci yang cepat pula. Aku sebagai pianis yang hampir hafal semua lagu, tapi tidak untuk lagu ini.

Aku mendekat perlahan.

Dia masih saja tak merasakan kehadiranku, nada-nada cepat itu bahkan kini makin terasa cepat. Dengan keadaan mata tertutup untuk menghayati lagunya, aku gunakan kesempatan ini untuk mengagetkannya.

Kututup matanya dengan kedua tanganku.

Nada-nada cepat itu berhenti. Dia melepas tanganku dari wajahnya dan menatapku, aku tersenyum senang dan begitu pula ia.

“Kau, aku kira siapa. Kau bisa bermain ini??”, tanyanya dengan mempersilahkanku duduk disampingnya.

“NE~!!! Tentu saja. Aku salut untukmu dengan nada kunci cepat tanpa melihat. Aku saja harus melihat setiap menuju akhir lagu dan memulainya lagi.”, jawabku dengan mengambil nada do.

“Maukah kau bermain untuk tangan kiriku??”, pintanya sambil mengambil semua buku lagu. Dibukanya not lagu Journey – Jill Xu. Nada yang pelan tapi membuatku melayang perlahan. Aku dan dia memankannya dengan nada random, membuat lagu ini makin hidup dan ruangan yang menggema ini makin membuat lagi semakin sakral.

Nada terakhirpun selesai, aku memandangnya dengan senyum yang hanya untuknya.
“Kau suka??”, tanyanya yang masih mencari lagu lagi.

Aku mengangguk mantap.

“Kau belatih untuk kelulusan nanti??”, tanyaku sedikit mendekatkan wajahku untuk melihat wajah damainya.

“Ne~!!”, aku terasa ada yang aneh saat dia menjawab. Aku mengerenyitkan dahi.

“Setelah kelulusan nanti, gedung sekolah ini akan diruntuhkan. Akan diganti dengan yang baru, aku merasa tak setuju untuk hal ini. Aku tahu gedung yang sudah menyerupai kastil ini harus di renovasi, tapi tidak membabi buta dengan cara di robohkan semua. Disini masih banyak dinding-dinding yang kokoh.”, ujarnya dengan nada yang serak untuk menahan kepedihannya.

Aku mengelus punggungnya lembut untuk menenangkanya.

“Sepertinya aku harus pulang, hari sudah malam. Aku ingin sekali tau dimana rumahmu. Bolehkan aku mengantarkanmu??”, tanyanya sambil memasukkan buku lagu itu kedalam tasnya.

Aku teringat kembali, bahwa selama disini aku tak pulang, bahkan aku tidur di ruang kesehatan. “Ah~ anio!! Gwenchanayo~!! Aku akan pulang sendiri saja. Gomawo~!!”, ujarku yang buru-buru merapikan seragmku dan melewati belakangnya untuk mencapai pintu besar berukiran peri cinta.

Tapi belum sampai ke pintu tangannya sudah memegang tanganku erat, aku yang sedikit oleng langsung di peluknya dan tepat saat itu juga wajahnya tepat di depanku. Hembusan nafasnya hangat menerpa wajah membuatku memejamkan mata untuk kehangatannya. Jantung yang seraya sudah copot untuk saat seperti ini. Kurasakan sesuatu yang basah terasa di bibirku, aku membuka mataku. Dia menciumku. Aku yang masih tak mengerti apa-apa hanya dapat terdiam untuk bibir hangat yang sudah di bibirku. Cukup lama hingga ia melepaskan kecupannya. Aku yang masih gelagapan hanya dapat melihatnya tegang.

“Aku akan menjagamu setiap langkah!!”, ujarnya bernada lembut membuatku makin kehilangan jantung. Sudah untung aku masih mempunyai paru-paru ya awalupun seperti ini. Tapi jantungku sudah copot dan bergelinding entah kemana.

Aku perlahan keluar dari gudang itu sambil menatapnya. Dengan langkah sedikit melompat-lompat aku menyusuri koridor sekolah.

***

Hari ini adalah hari dimana aku dilulus. Semua murid sedang berfoto bersama. Kecerian sedang menyeruak disini, sebenarnya aku kesini bukan untuk mengikuti wisuda, aku hanya mencari Leeteuk dan menjalankan janjiku dulu. Untuk membuka semua lembar baru bahwa aku ini berbeda tetapi ada juga yang sama. Kulewati semua insan yang sedang menunggu wisuda yang akan dilakukan beberapa jam lagi. Kutelusuri semua sudut sekolah, tapi tak kunjung bertemu dengannya hingga pengumuman yang menandakan bahwa wisuda akan dilaksanakan.

Semua murid memasuki aula besar, terlihat panggung yang terletak di tengah dan piano grand besar berwarna emas terletak di tengah panggung. Aku tak masuk kesana, hanya untuk mencari Leetuk. Kuterduduk di bangku taman tepat di depan aula sebagai berjaga-jaga untuk kehadirannya.

Pembawa acara sudah mulai menyampaikan acara-acara yanga akan di bawakan. Aku hanya dapat merenggangkan kaki untuk hal yang membosankan tapi memebuat jantungku berdetak tak karuan untuk melihat lagi wajah damai dan senyumnya.

Sudah lama aku terduduk disini, cahaya matahari yang menyengat tak menggoyahkan keingiannku untuk bertemuinya hingga aku mendengar alunan nada piano diikuti alat musik laginnya yang bernada cepat. Aku tercengang untuk hal ini karena ini adalah lagu buatanku. Aku berdiri dan berbalik menatap siapa yang memaninkan laguku. Dengan jarak yang seperti ini, mana mungkin terlihat. Hatiku mengerakkan kakiku menuju aula.

Seorang namja yang sudah tak asing bagiku, bahkan sudah separuh dari isi diriku sedang memainkan lagi yang bernada cepat itu.

“Leetuk!!”. Aku memanggail namanya. Seharusnya ia mendengarku, tapi ia tak menoleh sedikitpun, walaupun suara dari aat musik yang menggema dan para murid yang diam tapi aku percaya bahwa suaraku masih terdengar olehnya. Akupun mendekat.

Memanggil namanya lagi.

Tak merespon.

Aku tunggu lagi hingga ia selesai bermain laguku. Aku terharu untuk bernada cepat seperti ini, lagi-lagi ia tak melihat keynya. Ini membuatku kagum untuk skillnya.

Tepuk tangan yang meriah memenuhi ruangan ini untuk permainan bernada cepat itu. Kini ia turun dari panggung, aku mencoba mendekat dengannya tapi sesuatu seperti menahanku. Kakiku teras tak dapat bergerak, tapi untuk kulangkahkan mundur baru bisa.

Aku memanggil namanya lagi.

Tak merespon, bahkan ia menghilang bersama teman-temannya.

Aku panggil lagi hinga terasa suaraku terasa berat saat mengetahui bahwa penyakitku akan kambuh lagi.

Aku mencoba keluar dari aula untuk menyusulnya. Kulihat ia bersama seorang perempuan yang sama sekali tak kukenal. Ia terasa bahagia bersamanya, dapat kulihat dari raut wajah bangganya.
Aku mengambil nafas dalam-dalam. Paru-paruku terasa berat kembali, air mata tak terima telah terbendung. Tak kuat untuk ini, aku berlari ke kelas dengan sudah payah. Bantuan nafasku tertinggal di tas. Dengan langkah terserok-serok, dada yang mencengkram, dan nafas yang tak dapat kuhirup aku menuju kelas.

Kubuka tasku, mengaduk-aduk isinya mencari dan berharap menemukan obat sesakku.

DAPAT!!

Kutekan dengan tenaga yang tinggal sedikit lagi, tak kunjung ia keluar. Kucoba tekan lagi, nafas yang makin susah membuatku sedikit oleng. Aku tau ini waktunya. Aku harus mengakhiri ini semua.
Kuambil tipe-exku. Kutekan kuat-kuat, dan membentuk kata.

Aku mencintaimu Leeteuk. Kau mencintaiku??

Nafas yang makin tak terasa dan semua pandangan gelap. Selamat tinggal Leetuk. Aku selalu di hatimu dan kau akan ada dihatiku.

***

LEETEUK POV: ONN

Aku mencarinya. Dimana dia?? Setelah ia performanceku, aku ingin ia melihatku.

Kulihat ia tak kunjung datang. Aish~ Hyun Ah~.

Aku maju dan langsung mengeluarkan map coklat berisikan not-not cepat yang kutemukan terselip di kayu piano ini. Belum semuanya kubaca tapi aku rasa ini adalah lagu bagus.

Kumainkan kunci-kunci yang masih asing bagiku, tapi entah terasa nyaman di jariku walau ini adalah pertaman kalinya. Bernada cepat tapi tetap beraturan hingga aku dapat menutup mataku dan memainkannya.

Aneh~ aku sama sekali belum pernah bermain lagu ini tapi terasa sangat hafal sekali bagiku. Kumainkan terus menerus hingga selesai.

Tepukkan tangan memenuhi ruangan ini, hingga saat ini aku belum menemukan Hyun Ah~. Aku turun menemui teman-temanku untuk kebelakang panggung.

“Pertunjukan yang bagus. Dari manakau dapat lagu itu??”, tanya Ji Hae dengan senyuman puas. Dia memegang biola tepat di sampingku tadi.

“Aku menemukanya!!”, jawabku seadanya.

“Hey, Leetuk. Sepupumu dari Rusia menemuimu!!”, ujar Kyuhyun sebagai pemengang clarinet. Sepupu?? Ah~ Hyeun Jae. Aku hampir melupakannya. Akupun langsung bergegas menemuinya di luar aula.

“Hallo Jung Soo.. sudah lama kita tak berjumpa.”, ujarnya sambil memakai senyumnya yang sama sepertiku. Ia mempunyai dekik sepertiku.

“Ya sepertinya!!”, aku menjawab dengan memeluk rindu kepadanya. Saat ku peluk rasanya seperti aneh. Aku merasa ada Hyun Ah~ ada disini memperhatikanku. Mungkin ini hanya perasaan saja.

“Bagaiamana kabar umma??”, tanyanya sedikit tersenyum.

Pikiranku masih tertuju ke Hyun Ah~, aku tak memperhatikan Hyeun Jae.

“Jung Soo… gwenchanayo??”, tanyanya sedikt heran.

“Akh~ mian Hyeun, aku akan segera kembali!!”, ujarku langsung pergi meninggalkannya.

Aku menyusuri koridor sekolah menurut instingku. Aku merasa Hyun Ah~ ada di sekitar sini tapi tak dapat kilihat. Pikiranku tertuju hanya padanya, hatiku terasa gundah sperti ada yang aneh disini. Kulangkahkan tujuanku ke kelas, terasa sepi karena semua murid sedang di aula. Aku berbalik. Tapi seketika itu juga aku melihat sesuatu di mejanya. Sebuah tipe-ex.

Kulihat ada tipe-ex dimejanya. Entah kenapa tanganku tak tinggal diam, kutuliskan sesuatu di mejanya.

Dimana kau Hyun Ah~??

Aku menatap tulisan putih itu di mejanya. Aku teriangat kembali dengan Hyeun Jae, kuberanjak tapi mataku masih mentap meja itu.

Aku tak percaya!! Ada tulisan yang timbul seperti corak dan hampir tak jelas yang bertuliskan.

Aku mencintaimu Leeteuk. Kau mencintaiku??

Aku langsung terduduk kembali di bangkunya. Kuambil tipe-ex itu untuk menjawbnya.

“Aish~ sial!! MACET!!”, gumamku kesal dengan mengocok-ngocok terus tipe-ex itu. Akh~ aku tak menjawabnya tapi aku membuat sebuah gambar dengan titik-titik yang kuhungkan membentuk gambar hati. Kubanting tipe-ex itu dan menunggu jawabannya hingga kurasakan mungkin aku telah tertidur.

***

Aku terjaga di pagi harinya dengan keadaan tak di kelas lagi melainkan di sebuah ruangan gelap. Suara bising mesin membuat pekak telingaku, aku teringat bahwa sekaranglah saatnya untuk di renovasi gedung sekolah ini. Aku ingin mencari Hyun Ah~ untuk ingin memberitahunya bahwa ini saatnya menyatakan kalau aku menyukainya, tapi di mana dia??

Kususuri lorong-lorong dengan menyelinap agar tak terlihat oleh para pekerja. Dengan melewati garis penghalang, besi-besi dan yang lainnya. Pikiranku membawaku ingin menuju gudang, tempatku bermain bersamanya. Kulewati para pekerja itu dengan sukses, tapi jalan menuju gudang belakang telah ditutup. Sial!! Akalku kini mulai bermain. Kupanjat tiang-tiang besi menuju jendela atas. Kupecahkan kaca itu dengan sikuku dan melewatinya, menyusuri tangga menuju bawah dan tepatlah di depan sana terdapat sebuah pintu besar yang bercorak tak asing lagi bagiku.

BINGO!!!

Kulihat semua alat-alat masik telah di pindah tapi, kenapa hanya piano saja yang tak di pindahkan??
Aku tak menunggu waktu lagi, langsung saja aku terduduk dan memainkan kunci-kunci yang sudah tak asing dan di luar kepala. Dengan nada dan kunci yang cepat tapi random membuatku tak mendengarkan bising yang sedang mendera untuk perenovasian gedung ini. Sedikit demi sedikit aku rasakan bahwa alat berat itu sudah mengrobohkan bagian depan gedung dan satu lagi dengan di pinggir kiriku. Aku makin memainkannya dengan cepat tanpa membuka mataku, dengan seperti inilah aku nyaman dan dapat cepat, tidak dengan membuka mataku. Hingga aku menyadari bahwa mesin penggaruk besar telah merobohkan gudang dan membuatku harus mengakhiri ini semua.

***

Terlihat berbeda, sangat berbeda membuatku ingin sekali tertawa jika bertabrakan. Kini aku mungkin di bilang tak terlihat dan dapat di tembus. Aku tahu, kini akau dan dia sudah sama. Menjadi penghuni untuk sekolah ini, menumbuhkan cinta yang sudah kami tanam, dan membuatnya bahagia tanpa panyakitnya lagi.

Kuselusuri koridor menuju kelasku. Kulewati semua insan di depanku dengan cara menembusnya, dan sukses membuatku tertawa kecil untuk kegelian yang kualami di perutku.

Aku buka pintu yang sedikit macet itu dengan susah payah dan hingga aku menemukan dia. Separuh hari dan diriku, kulihat ia menyambutku dengan senyumnya yang sudah kurindukan, dan sudah lama aku tak bertemu dengannya.

Aku tahu, kita berbeda, tapi perbedaan ini membuatku dengannya makin erat. Hyun Ah~ apakah perlu aku merubah margamu menjadi Park Hyun Ah~??

FLASBACK: OFF

***
Suatu hari nanti, aku ingin melihatmu bersamaku disamping seharian penuh.

Untuk mengabadikan senyummu disaat kau terpuruk ataupun tersenyum untukku.

Kethuilah, hatiku terbuka lebar untukmu, aku menunggu untuk saat itu tapi tak mampu.

Aku menemuimu dengan dunia berbeda, mungkin dengan cinta dan musi kita dapat bersatu.

Tapi ketahuilah.

Aku mencintaimu.

                                                                                                By: Hyun Ah~
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar