Rabu, 04 April 2012

Punishment ~{KyuNa site}~


Author: Tamara Kim
Cast: Cho Kyuhyun, Lee Hana
Catagories: NC, Romance, Thriller
Tag: Kyuhyun

~_~

Kakiku berjalan menyusuri trotoar kota yang sudah sepi ini. Jam tanganku sudah menunjukkan tepat pukul satu pagi. Seperti inilah orang yang selalu sibuk di kantor dengan pekerjaan yang sangat berat. Derap langkahku terhenti saat ada sesuatu seperti membuntutiku, kulihat sekeliling. Sepi tak ada tanda-tanda kehidupan. Kakiku berjalan kembali tapi ini dapat di bilang berlari kecil.

SREK!

Aku terhenti lagi. Seperti ada derap langkah, kuberbalik taka da apa-apa. Sial! Siapapun itu, terkutuklah dia!

Dengan keberanian yang tinggi hanya selutut au berlari menuju rumahku yang sudah terlihat di pojok jalan ini. Selama berlari ini masih saja terasa bahwa langkah itu benar-benar mengikutiku, seakan aku berlari saat ini sedang bersama seseorang.

BUK!

Kuhempaskan pintu itu, degup nafasku masih tak dapat terkendalikan. Jaket biru kubuang sembarangan beserta tasku. Sedikit panas sehabis berlari tadi dengan inisiatif kubuka sedikit jendela di ruang tamu ini. Berganti baju dengan piyama teddy bear dan mencuci kaki, menggosok gigiku. Cukup segar untuk tertidur di kasur lembutku.

Sandal kucing hangatku sudah terpsang di kaki, kuning dan lucu. Aku suka kucing, tapi tak berani merawatnya sejak nafasku yang alergi dengannya. Sial!

Aku menuju dapur untuk mengambil minum, membuka kulkas dan mencari sesuatu yang segar. Yang dapat dengan sukses menyirami tenggorokanku yang kemarau. Tanganku memilih pome jeruk di pojok kulkas. Ah! Sungguh segar..

Kututup pintu kulkas dan segera berbalik menuju jendela yang belum kututup.

KYAAA!

“Neo!”, aku berteriak saat seseorang terduduk di meja makanku.

“Kenapa kau berlari, huh?”

Raut wajahnya yang kesal sangat kontras denga lampu yang remang ini, menyeramkan tapi terlihat tampan.

“Aku di buntuti!”. Jawabku pendek dan menuju jendela. Dia, Cho Kyuhyun. Namjachinguku yang sangat berbeda dari namja yang lain. Bukan hanya tampan yang sampai kelangit, dia berbeda karena dia itu Vampire.

Tiba-tiba saja aku terpojok ke dinding ruang tamuku saat ia mendorong tubuhku cepat. “Itu aku, bodoh!”. Aku terdiam, kalaupun itu dia kenapa tak melakukan seperti ini dari tadi dari apda aku harus capek-capek berlari.

“Oh,” kulepas cengkraman tangan dinginnya, tapi nihil. Cengkramannya terlalu kuat.
“Sudah aku katakana jangan menjauhiku!”,

“AKU TAK MENJAUHIMU!!!”

“JANGAN BERBOHONG!!!”

Aku bungkam, mana mungkin aku bohong?

“Aku tidak bohong!”, kulepas paksa tangannya, tapi ia makin mempererat cengkramannya membuatku sedikit berteriak dan meneteskan air mata. Bagaimana tidak, rasanya seperti tergigit dengan taring besar yang menembus pergelangan tanganmu.

Aku berjongkok sambil memegang tanganku yang baru di lepasnya.

“Kau harus mendapatkan hukumannya!”

Belum sempat kucerna kalimatnya tubuhku di banting olehnya, sungguh sakit dari jarak jah ini aku terpental hingga menabrak pintu utama. Aku mencoba berdiri sebelum Kyuhyun melakukan yang lebih baik. Dia jarang seperti ini, apa hanya seperti ini ia berani membuatku terluka?

BRUK!!

Aku terhempas kembali kali ini mendekati tangga, jikalau kepalaku tidak cepat-cepat menunduk kemungkinan besar kepala ini akan habis terkena pegangannya.

“Cukup…CHO KYUHYUN!!”

Aku berteriak dengan air mata berserakan, memegang tangannku yang sembat terkelupas kulitnya. Ia berjalan cepat kearahku, bagaikilat bahkan mataku tak dapat menyadarinya yang sudah terduduk di sampingku.

Tangisku tertahan saat melihat wajahnya yang sudah memperlihatkan taringnya. Jangan! Jangan hari ini! Beberapa hari yang lalu ia suda menghisap darahku dan sakitnya baru saja sembuh.

“Andweee…hikss”, tangis ketakutan dengan ucapan memohon terdengar menggema di ruangan ini.
Perlahan tubuhnya mulai mencondong kearahku dan otomatis tubuhku mencoba menjauh darinya, tapi apa yang terjadi di luar pemikiranku. Tubuhku kini makin menjauh dan kini sudah menempel kembali ke tempok, bekas hempasan tubuhku dengan pintu tadi terasa makin panas di punggung.

Aku memohon kembali dengan air mata yang makin deras, kakiku  menendang-nendang tubuhnya tapi tangannya memegang kakiku dan sedikit memelintirnya. Aku berteriak kesakitan. Kyuhyun tersenyum setan di depanku apa sekarang ia sedang kelaparan? Aku tidak tau tapi ini di luar kendali dan kehidupan seorang Kyuhyun.

ARGH!!!

Taringnya yang dingin terasa menembus kulitku, darahku di hisapnya. Tanganku tak hentinya menggenggam erat bajunya. Sakit! Sangat sakit sekali..

Tuhan! Bantu aku…

Dengan sisa tenaga kupukul lengannya, memberontak untuk menghentikannya. Kyuhyun melepaskan gigitannya. Sangat panas bagai terkena cairan besi yang baru saja di lelehkan. “Cu..cukup…. itu.. hiks.. itu.. sa-sakit..”, terpatah-paath kuucapkan kalimat itu. Kyuhyun memiringkan kepalanya memasang wajah tak di paham. Masih terisak aku memohon di depanya yang menungging saat menghisap darahku tadi.

Tanpa aba-aba ia menyerangku kembali. Taring dinginnya bersarang disana kembali tapi kali ini berbeda, sangat nikmat dan lebih nyaman. Jangan katakana bahwa ia sudah menghinoptisku!

“Ahh~”

Suara apa itu? Sangat menjijikkan di telinga tapi berfakta bahwa itu dari bibirku!

Tangan dingin Kyuhyun menyusuri pinggangku, mengangkat dengan ringannya tubuhku di pangguannya yang sudah terduduk, jari-jariku kutelusupkan di sela-sela rambutnya. Aku menikmati gigitannya dan dia menikmati darahku.

“I want more from you..”

What? Apa yang ia katakan? More? Aku tak punya apa-apa.. kepalaku mengangguk yang sangat bertolak belakang dari perintah otakku. Kyuhyun mulai mengangkatku dengan focus menatap manik mataku. Sangat tampan, bahkan dengan darah dari bibirnya yang sedikit belepotan ia makin tampan. Bibirku mengecup bibirnya yang terasa asin darahku sendiri. Berusaha semaksimal mungkin agar lidahku tak mengenai taringnya. Makin dalam ciumanku yang kini bererang lidah dengannya.

Lidahnya sangat dingin tapi mahir membuatku terlena hanya dengan ciumannya. Desahan yang tertahan tak luput terus keluar dari bibirku.

Entah sejak kapan aku sudah di baringkan di kasurku ini.

Kyuhyun melepaskan ciumannya. Aku yang sedang terlena terasa kecewa, aku ingin lagi..!

Ia menatapku, dengan sekali tarikan piyamaku terlepas begitu saja sangat tak sabar sekali. Kini terpampang jelas payudaraku yang berukuran tak terlalu kecil ini di depannya. Yah, setiap mau tidur aku tak berpah memakai bra.

Kyuhyun menatapku dengan takjub.. “My first!”,

“Don’t be lie!” “Kau yang pertama untukku!”, dengan tersipu malu aku termakan rayuan gombalannya yang pasti aku tau dia berbohong.

“Aku tidak berbohong!”

“Terserahlah!”

Sedetik setelah aku menjawab itu, taringnya bersarang kembali dengan tangannya yang aktif meremas payudaraku. Di bawah tubuh dinginnya aku melenguh dan mendesah liar. Sangat nikmat walau tersirat rasa sakit yang luar biasa.

“Ohh!”, ia meremas payudaraku keras, tangannya yang sangat pas dengan ukuran payudaraku sangat lihat bagai lidahnya tadi yang membuatku cepat terlena.

Terasa tangan kanannya turun menelusuri perutk, geli terasa dan membuatku sedikit tertawa antara desahan dan tawa yang tertahan.

Tangan dinginnya mulai nakal memasuki celana piyamaku, terus masuk menuju celana dalamku. Ia telusuri semuanya, taringnya terlepas dari lehernya dan desahanku keluar kembali, ia mencim bibirku basah dan turun perlahan menuju garis rahanku, dagu, leher dan kini sudah di payudaraku. Lembut, lembut sekali ia melakukannya. Jauh berbedaq dengan apa yang ia lakukan di leherku tadi.

Tangan kanananya aktif di bawah sana mengelus bagian luar vaginaku yang tertutup celana dalam, terus menerus ia menyedot putingku kiri dan kanan. Sangat lembut, bahkan aku ingin berteriak memintanya agar bermain lebih dari ini. Sepertinya ia memainkan diriku.

Kedua tangannya mulai menurunkan celana piyamaku, hingga kini tersisa celana dalamku. Tubuhku terasa lemas saat kecupannya sudah tak berada di dadaku.

Ia terduduk di depan vaginaku, menatapku dengan wajah anak kecil yang menemukan mainan baru. Kulit tangannya yang dingin menyentuh kulitp pinggangku, pelan ia memegang pinggiran celana dalamkum ia menurunkan celana dalamku perlahan, menyisakan kain yang masih menempel dengan vaginaku yang masih basah tapi dengan perlahan juga ia menaikkan kembali celana dalamku. Membuat kain itu menekan clitorisku. Vaginaku terasa berkedut. Apa ini namanya terangsang?

Oh! Nikmat ini sangat menyiksaku.

Ia menurunkan kembali celana dalamku dan menaikkannya kembali tapi yang ini lebih menekan dan “Cu-cukup ohh… cukup kyuhyun-ahh..”, itu benar nikmat.

Ia hanya tersenyum, sangat menggoda. Bibir tebalnya, aku menginginkannya!

Ia makin menetan kain celana dalamku dengan clitorisku dan yang terjadi hanya vaginaku yang berkedut. Cukup lama ia melakukan itu hingga akhirnya ia melepaskan celana dalamku semuanya. Sangat lega rasanya. Tapi itu tak berlangsung lama saat ia menyerangku dengan cepat dan liar dengan bibirnya di vaginaku. Di gempurnya tanpa ampun.

Aku berteriak kenikmatan saat lidahnya mulai mencari lubang itu, lubang kenimakan yang ia tuju dari tadi. Kepalaku bergerak liar kekiri dan kekanan dengan liar seperti mulutnya di bawah sana. Kurapatkan pahaku saat ia sudah menyedot vaginaku.

“Ahh.. ohhh… kyu..ah..kyuhyun-ahh…”,

Desahan itu yang terulang terus. Aku tak dapat menahannya kembali..

BYUR!!

Hah, hah, hah.. sangat lega sakali. Kupejamkan mataku mengumpulkan sisa tenagaku. Seperti ada ledakan lega dalam diriku barusan dan itu terasa nikmat.

Kubuka mata kembali dan kini terlihat wajah Kyuhyun yang sejajar denganku. Jika manusia biasa dengan posisi seperti ini dapat terasa deru nafas tapi dengan Kyuhyun aku tak dapat melakukannya. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku.. “Berikan aku jalan..”, dengan sedikit desahan ia mengatakan itu, siapa yang akan menolak jika seorang Cho Kyuhyun berkata itu beserta desahan?

Aku yang mengerti segera membuka lebar pahaku dan terpampang jelas lubang vaginaku,l lubang sengsama, lubang surge dunia.

“Aku tak tau rasanya tapi seperti yang kupelajari, bagi perempuan sedikit sakit. Entahlah, aku tak tau karena aku belum merasakan sebelumnya.”, sepertinya ia benar tentang bahwa aku memang yang pertama, terutama sejak ia mengaku seperti tadi.

Sejenak aku terdiam menenangkan diri, dan sedetik kemudian aku mengangguk. Ia tersenyum dan mulau menciumku. Lagi-lagi aku terlena dengan senyumannya.

Benda dingi, besar dan terasa keras itu berada di selangkanganku. Tubuhku tiba-tiba saja menegang, apa aku takut?

“Aku akan melakukannya cepat!”

Belum sempat mencerna aku berteriak kembali. Sesuatu yang besar itu menerobok masuk kelubangku. Terasa panas dan seperti terkena pisau di kulitmu. Aku menangis kembali dengan mencengkram erat lengannya.

Lidahnya menyusuri pipiku, mengikuti arah air mataku. “Don’t cry..”, di sela-sela jilatannya ia mengatakan itu. aku terdiam kembali meenangkan diri. Itu juniornya yang baru saja memasuki bagian diriku. Dingin, keras dan berkedut kencang seirama dengan vaginaku.

Kubuka mataku dan menatapnya. Ia sangat tampan bahkan melihatnya saja rasa sakit yang barusan mendera ganas kini hilang entah kemana.

“Oghh!”, desahan pertama saat ia menghentakkan juniornya keras. “Ohhh…. Ohh.. ahhhhh.. arrghh!”, ia makin mempercepat gerakan mengeluar masukkan juniornya. Panas dan sakit yang terasa di vaginaku. Aku memangis kembali, ini sangat sakit sekali. Tapi berangsur rasa itu menghilang. Yang terasa kini hanya nikmat dan kini aku menangis karena air maka kenikmatan.

Kyuhyun mendesah teratur yang jauh berbeda dari desahanku yang perputus-putus dan sangat nikmat. Desahnnya terdengar jelas di telingaku sangat merdu dan damai. Desahannya adalah suara yang paling indah selain suara merdunya saat berbicara.

Ia mengeluar masukkan juniornya, menariknya hingga ujung penisnya sampai keujung dan menghempaskannya kembali ke vaginaku menusuk titik rangsang itu. ah, benar-benar seperti berada di awan.

Ia bergerak makin cepat, aku berteriak makin kencang, ini sangat cepat dan sangat nikmat. Di bawah tubuhnya aku terhentak-hentak liar akibat dorongan pinggulnya.

“Ahhhhhhhhh!!!”, aku mendesah panjang. Aku duluan yang sampai tapi Kyu masih bergerak sedikit lebih lamban dari sebelumnya. Ia belum mencapai puncak.

“Sa..ah..sabar..ohh!”, dengan tersenggal ia mengatakan itu, terus menggenjot juniornya di vaginaku yang masih berkedut. Aku hanya melenguh kenimatan tak dapat menjawabnya. Ah rasa itu, rasa mencapai puncak kembali datang. Vagiaku berdenyut kencang dan juniornya mengeluarkan ototnya yang terasa mengerunjal di vaginaku.

Ia makin cepat, sangat cepat dan ..

Lenguhan pajang sebagai tanpa kemenangan yang ia dapatkan saat mencapai puncak. Aku memejamkan mataku merasakan sisa-sisa permainan panas kami.

Kyuhyun ambruk di sampingku tanpa ada deru nafas tersenggal. Karena ia tidak bernafas ia tak melepas juniornya dari vaginaku seakan menyuruhku menghangatkan benda dinginnya. Aku tak tak kuat lagi tertidur meninggalkannya yang tak mungkin bisa tertidur.

~_~

Sinar matahari sesekali menerobos tirai di jendela kamarku. Aku terbangun dan terduduk, rasa sakit tiba-tiba menyerang bagian bawahku. Apa ini? Darah dan bajuku? Mana bajuku? Aku terkesima saat semua isi kamarku tergeletak piyama dan kain-kain kasur ini berserakan. Aku memegag kepalaku yang terasa berat. Kulihrik sebelahku tak ada siapa-siapa.

Apa yang terjadi semalam? Kurenungkan sebentar, Cho Kyuhyun? Terduduk? Menghantamku? Dan..

ARGH!!!

Aku tidak perawan lagi? Bagaimana ini? Aku tidak akan memberikan keperawananku sebelum aku menikah sah dengan suamiku tapi Cho Kyuhyun dengan BANGS*TNYA mengambil mahkotaku. 

Aku menangis menyesali semua? Kenapa kau tak menyadarinya?

Sudah seminggu aku tak keluar dari rumahku, izin ke kantor bahwa aku sedang sakit dan berusaha tak berhubungan telekomunikasi dengan tetangga sebelah. Aku masih menyesali semua ini.

Wajahku kini makin kurus, tulang pipiku terlihat jelas dan kantung maata yang membuatku seperti hantu. Ah Cho Kyuhyun bahkan tak memberikanku kabar ataupun apa yang akan mempertanggungjawabkan semuanya. Hingga malam tiba, aku terduduk di balkon atas yang menampakkan remang-remang lampu kota Seoul.

“Lee Hanna..”, suara yang seminggu ini aku tunggu dan sangat marah terdengar jelas di belakangku. Cho Kyuhyun, si brengsek itu terduduk di pinggiran balkon dengan menunduk. Aku melihatnya sekilas dan segera membuang muka kembali tak ingin melihatnya walau hati dan otakku berteriak merindukannya.

“Maafkan aku, waktu itu aku di luar kendali..”

Ya Cho Kyuhyn kau bodoh sekali…!!! Aku merindukanmu selama ini dan meminta pertanggung jawaban..

Itulah yang ingin aku lontarkan tapi bibirku beku untuk mengatakan itu. “Pergilah, aku tak ingin melihatmu!”

BOHONG! Aku berbohong!!

“Aku tau pikiranmu, Hanna!”

Aku bungkam. Dengan segera aku berbalik dan menuju pintu, menginggalkannya di luar sana tapi sebelum mencapai pintu ia sudah memelukku. Menghantarkan rasa rindunya padaku hanya dengan sebuah pelukan. Aku masih terdiam. Tapi dengan cepat kubalas pelukannya dan memukul dadanya, melampiaskan kemarahanku dan kekesalanku saat di tinggalnya. Bingung siapa yang akan bertanggung jawab dengan ini semua.

“Menikah;ah denganku…”

~_~


Sebulan setelah ia mengatakan itu aku kini berdiri dengan baju pengantin putih yang berhiaskan bungu berbalut di pinggang yang menjuntai indah.

Prosesi pernikahan sudah selesai dari tadi dan kini Kyuhyun masih di luar sana menyalami tamu bagai manusia normal lainnya sedangkan aku sudah di kamar karena lelah.

Kupejamkan mataku menikmati angin di balkon ini.

“Kau merindukanku?”

Suara merdunya sudah di belakangku. Memelukku tiba-tiba.

“Tidak…”

“Mari kuberi tau sesuatu kepadamu..”

“Apa itu?”

“Cinta itu bukan Kasta, sayang.”

Aku tersenyum tertahan saat ia mengatakan hal itu. Siapa yang mengatakan cinta itu kasta? Itu penyakit kulit, bodoh sekali suamiku ini.

“Siapa yang mengatakan aku bodoh.??”. Opps. Aku lupa, suamiku seorang vampire. Dapat membaca pikiran manusia

“Memang kau bodoh..” ledeknya dengan tersenyum evil padaku

Aku cemberut dan mengosongkan pikiranku.

“Jangan kosongkan pikiranmu!”

Lalu? Apa yang aku lakukan?

“Pikirkan saja kau mencintaiku..”

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar